Nilai-nilai Kristiani dari nilai-nilai umum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat
dan kemajuan teknologi sekarang ini memberikan banyak kemudahan dalam hidup, namun juga membawa pengaruh buruk bagi anak-anak terutama yang masih berada dalam bangku sekolah. Melalui antena parabola atau internet misalnya, anak-anak dapat mengakses games dari belahan dunia mana saja, yang membuat mereka lebih senang berada di depan layar komputer. Gaya hidup yang berlimpah materi dan kesenangan yang memborbardir anak-anak melalui pelbagai tayangan iklan dan media mendorong anak-anak untuk bersikap konsumtif dan materialistis. Segala sesuatunya hanya diukur dengan uang, demi status dan gengsi. Akibatnya anak-anak semakin sulit dalam mencari makna hidup bagi mereka.
Dalam menghadapi problema tersebut, maka diperlukan nilai-nilai
(values) yang dapat dijadikan sebagai pengarah pedoman hidup dan identitas
diri. Nilai-nilai yang menjadi dasar hidup, sikap dan perilaku dalam menghadapi
gaya hidup modern yang cenderung bebas nilai.
Orang tua dan lingkungan juga
dapat membuat
Pembentukan Karakter dengan Nilai-nilai Kristiani sebagai pedoman utamanya.
Tujuannya adalah supaya anak-anak memiliki identitas Kristiani yang tangguh dan
mempunyai karakter yang jujur, ramah dan rendah hati. Dengan pembentukan
karakter yang baik, diharapkan anak-anak akan mampu menghadapi tantangan di
masa depan, dengan identitas dan jati diri yang tangguh.
Amsal 22:26 dikatakan, "Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada
jalan itu".
Mendidik berarti meletakan nilai-nilai dasar (base on) yang akan
membentuk baik karakter, kepribadian maupun kemampuan berpikir anak-anak kita.
Dengan Nilai-nilai Kristiani yang bersumber pada Alkitab dan Yesus Kristus,
maka Nilai-nilai Kristiani itulah yang menjadi motor dan penggerak, yang
mendasari dan menjiwai anak.
Orang tua juga menetapkan Nilai Kerendahan
hati ,Mudah tersenyum, lebih dulu menyapa orang lain, Tutur kata
dan Sikap yang mempertimbangkan orang lain, Berani meminta maaf,
4. Kiat-kiat
Menanamkan Nilai-nilai Kristiani kepada Anak dan Remaja
Berikut ini
adalah kiat-kiat menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada anak dan remaja.
4.1. Anak (0
– 12 tahun)
- memberikan teladan tentang
nilai-nilai iman Kristiani di atas
- menyediakan bahan-bahan cerita
dalam media cetak atau elektronik
- menetapkan aturan-aturan dengan
prinsip ‘punishment and reward’
- menyediakan diri untuk menjadi
‘sumber’ jawaban atas pelbagai pertanyaan mereka, dengan terus belajar dan
menyederhanakan jawaban sesuai tingkat pemahaman anak-anak
- mengajak dan melibatkan
anak-anak dalam pelbagai program pelayanan di gereja atau masyarakat sesuai
dengan kemampuan mereka
4.2. Remaja
(12 tahun – remaja lanjut)
- memaparkan segala sesuatu
secara terbuka, termasuk mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya
- menyediakan bahan-bahan
pembinaan rohani, seperti buku renungan remaja, dsb.
- mengijinkan mereka bergabung
dengan kelompok pergaulan yang baik dan terarah
- menyediakan diri untuk menjadi
tempat curhat mereka
- memberikan argumentasi yang
jelas terhadap segala hal yang diperbolehkan atau dilarang
- mengijinkan Tuhan sendiri
‘mengajar’ mereka
Tentunya kita-kiat
di atas harus didahului oleh doa yang dinaikkan terus-menerus bagi mereka. Doa
Ibu Monica berhasil membawa pertobatan yang radikal dalam kehiduan Agustinus.
Ada kuasa yang mengubah dan memperbaharui dalam doa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar